
zonafootball.com – Chelsea kembali menjadi sorotan dunia sepak bola Eropa setelah terungkap bahwa manajemen klub pernah melakukan pendekatan awal kepada Roberto De Zerbi, pelatih yang kini menangani Olympique Marseille, jauh sebelum keputusan memecat Enzo Maresca diambil. Fakta ini mempertegas bahwa perubahan di kursi pelatih Stamford Bridge bukanlah keputusan mendadak, melainkan hasil dari proses evaluasi panjang yang telah berlangsung sejak musim sebelumnya.
Meski sempat membuka jalur komunikasi dengan De Zerbi, Chelsea pada akhirnya memutuskan untuk tidak menunjuk pelatih asal Italia tersebut sebagai suksesor Maresca. Klub justru memilih mengalihkan fokus ke kandidat lain yang dianggap lebih sejalan dengan visi jangka panjang kepemilikan BlueCo.
Evaluasi Panjang di Balik Layar Chelsea
Sejak awal musim 2025/2026, posisi Enzo Maresca memang tidak sepenuhnya aman. Walau sempat menghadirkan stabilitas taktik dan membawa Chelsea meraih dua trofi penting di level internasional, performa domestik The Blues dinilai tidak cukup konsisten, terutama di Liga Primer Inggris.
Manajemen klub menilai bahwa Chelsea masih tertinggal dalam aspek dominasi permainan, efektivitas lini serang, serta kemampuan mengontrol pertandingan besar melawan rival papan atas. Situasi inilah yang mendorong petinggi klub untuk mulai menyusun daftar alternatif pelatih, termasuk menjajaki kemungkinan merekrut Roberto De Zerbi.
De Zerbi sendiri dikenal sebagai pelatih dengan filosofi permainan progresif, penguasaan bola tinggi, dan kemampuan mengembangkan pemain muda. karakteristik yang sebenarnya sangat cocok dengan profil skuad Chelsea saat ini.
Mengapa Roberto De Zerbi Tidak Dipilih?
Meski memiliki reputasi kuat, Chelsea menilai bahwa penunjukan De Zerbi mengandung risiko besar. Pengalaman De Zerbi menunjukkan bahwa filosofi permainannya membutuhkan waktu adaptasi yang panjang, serta kontrol penuh terhadap struktur tim dan rekrutmen pemain.
Di sisi lain, Chelsea berada dalam fase yang menuntut hasil instan sekaligus stabilitas manajerial, sesuatu yang sulit dicapai jika klub kembali memasuki fase transisi taktik besar-besaran. Selain itu, gaya kepemimpinan De Zerbi yang dikenal vokal dan konfrontatif dinilai berpotensi memicu gesekan internal, terutama dalam struktur manajemen Chelsea yang kompleks.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah komitmen De Zerbi bersama Marseille. Klub Prancis tersebut tengah membangun proyek jangka menengah dengan dukungan penuh manajemen, membuat Chelsea enggan memaksakan negosiasi yang berisiko menimbulkan konflik kontraktual.
Akhir Perjalanan Enzo Maresca di Stamford Bridge
Keputusan untuk berpisah dengan Enzo Maresca akhirnya diumumkan pada awal 2026. Langkah ini mengejutkan sebagian pendukung Chelsea, mengingat Maresca masih memiliki reputasi positif berkat gelar internasional yang ia persembahkan.
Namun, dari sudut pandang manajemen, hasil di liga domestik menjadi tolok ukur utama. Chelsea dinilai gagal menunjukkan progres signifikan dalam perburuan empat besar, serta terlalu sering kehilangan poin dalam laga-laga krusial.
Selain itu, muncul indikasi ketidaksepahaman antara Maresca dan manajemen terkait arah pengembangan skuad, rotasi pemain muda, dan strategi transfer. Perbedaan visi ini akhirnya membuat perpisahan dianggap sebagai langkah terbaik bagi kedua belah pihak.
Strategi Chelsea: Stabilitas di Atas Nama Besar
Pasca pemecatan Maresca, Chelsea tidak serta-merta memburu nama besar. Sebaliknya, klub kini lebih mengutamakan pelatih yang memahami ekosistem internal BlueCo, mampu bekerja dalam struktur multi-klub, serta bersedia menjalankan proyek jangka menengah dengan target yang realistis.
Pendekatan ini menjelaskan mengapa Chelsea tidak melanjutkan pembicaraan dengan De Zerbi, meski kualitasnya tidak diragukan. Klub menilai bahwa kesesuaian filosofi kerja lebih penting dibanding reputasi semata.
Chelsea kini mengarah pada figur pelatih yang lebih pragmatis, fleksibel secara taktik, dan mampu memaksimalkan potensi skuad muda tanpa mengorbankan hasil jangka pendek. Kriteria ini menjadi dasar utama dalam proses seleksi pelatih baru. Dengan kompetisi domestik dan Eropa yang masih berjalan, Chelsea juga mempertimbangkan faktor kecepatan adaptasi sebagai aspek krusial.
Keputusan Chelsea kembali mengganti pelatih memicu reaksi beragam. Sebagian pengamat menilai klub terlalu cepat mengambil keputusan, sementara yang lain memahami tekanan besar yang melekat pada proyek mahal Chelsea dalam beberapa musim terakhir.
Dalam beberapa tahun terakhir, Chelsea memang dikenal sebagai klub dengan tingkat pergantian pelatih yang tinggi. Situasi ini kerap memunculkan narasi bahwa klub masih mencari identitas manajerial yang ideal pasca era kesuksesan sebelumnya.
Namun, manajemen Chelsea bersikeras bahwa setiap keputusan diambil berdasarkan analisis data, performa tim, dan visi jangka panjang, bukan sekadar hasil jangka pendek.
Rosenior terdepan untuk kursi Chelsea

Dengan bursa transfer dan jadwal kompetisi yang padat, Chelsea kini berada di persimpangan penting. Penunjukan pelatih baru akan menjadi penentu arah klub dalam beberapa musim ke depan, termasuk bagaimana investasi besar terhadap pemain muda dapat dikonversi menjadi prestasi nyata.
Liam Rosenior kini disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk menjadi manajer Chelsea berikutnya. Strasbourg saat ini berada di posisi ketujuh Ligue 1, dan mantan bek Derby County itu terbuka dengan ambisinya kembali ke Inggris sebagai pelatih di Liga Primer Inggris.
Rosenior pernah mengatakan: “Ambisi saya adalah melatih di Liga Primer Inggris dan saya merasa siap, terutama karena permainan terbaik saya adalah sebagai pelatih berbasis penguasaan bola. Mungkin itu bukan langkah berikutnya secara langsung, tapi langkah selanjutnya harus memberi peluang terbaik bagi saya, staf, dan klub untuk menjadi tim Liga Primer Inggris.” Dalam tulisannya untuk Coaches’ Voice pada 2024.