Ranking Manajer Manchester United Pasca-Ferguson: Mourinho Tak Tergoyahkan, Amorim Jadi yang Terburuk

Zonafootball.comManchester United masih terus berjuang menemukan kembali identitas dan kejayaan mereka sejak Sir Alex Ferguson resmi meninggalkan kursi manajer pada 2013. Kepergian sosok legendaris itu menandai dimulainya era penuh gejolak di Old Trafford, di mana pergantian manajer terjadi berkali-kali tanpa hasil yang benar-benar konsisten.

Sebuah ulasan terbaru dari zona football merangkum peringkat para manajer permanen Manchester United pasca-Ferguson, dengan mempertimbangkan pencapaian, konsistensi performa, posisi akhir liga, hingga dampak jangka panjang terhadap klub. Hasilnya menempatkan Jose Mourinho sebagai manajer terbaik, sementara Ruben Amorim berada di posisi paling bawah.

Jose Mourinho, Standar Emas Pasca-Ferguson

Di puncak daftar, Jose Mourinho masih belum tergoyahkan sebagai manajer paling sukses Manchester United setelah era Ferguson. Meski gaya kepelatihannya kerap menuai kritik karena dianggap defensif, fakta di lapangan menunjukkan bahwa Mourinho adalah sosok yang paling mampu memberikan hasil nyata.

Selama menangani Setan Merah, Mourinho mempersembahkan tiga trofi, termasuk Liga Europa dan Carabao Cup, serta membawa MU finis di posisi kedua Liga Inggris—pencapaian tertinggi klub sejak 2013. Di tengah masa transisi yang sulit, Mourinho mampu menjaga daya saing United di level domestik dan Eropa.

Keberhasilan ini membuatnya dianggap sebagai tolok ukur bagi manajer-manajer berikutnya, meskipun hubungannya dengan pemain dan manajemen sempat memanas di akhir masa jabatan.

Ole Gunnar Solskjaer, Stabil Tanpa Gelar

Di bawah Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer menempati posisi berikutnya. Legenda klub ini membawa nuansa berbeda dengan pendekatan yang lebih menyerang dan atmosfer ruang ganti yang positif. Di bawah asuhannya, Manchester United sempat tampil menghibur dan beberapa kali finis di zona Liga Champions.

Namun, kegagalan meraih trofi besar menjadi kelemahan utama Solskjaer. Meski demikian, konsistensi performa dan kemampuannya menjaga stabilitas tim membuatnya tetap dinilai lebih baik dibanding sebagian manajer lain di era pasca-Ferguson.

Baca juga:  Chelsea Pernah Temui Roberto De Zerbi Sebelum Pecat Enzo Maresca, Namun Pilihan Akhir Berbeda

Van Gaal dan Ten Hag: Ada Trofi, Tapi Tak Berkelanjutan

Louis van Gaal dan Erik ten Hag berada di level berikutnya. Van Gaal sukses mempersembahkan FA Cup, trofi penting yang sempat mengakhiri paceklik gelar domestik United. Namun, gaya bermain yang kaku dan minim kreativitas membuatnya kurang disukai fans.

Sementara itu, Erik ten Hag juga sempat menghadirkan harapan dengan raihan trofi dan pembenahan disiplin tim. Sayangnya, performa Manchester United di bawah Ten Hag dinilai terlalu inkonsisten, dengan hasil buruk yang sering muncul di laga-laga krusial.

Keduanya dinilai memiliki momen positif, tetapi gagal membangun fondasi kuat untuk kejayaan jangka panjang.

Moyes dan Rangnick, Transisi yang Gagal

Nama David Moyes dan Ralf Rangnick juga masuk dalam daftar, namun berada di papan bawah. Moyes, yang menjadi suksesor langsung Ferguson, gagal memenuhi ekspektasi besar dan hanya bertahan satu musim. Rangnick, yang berstatus pelatih interim, juga tidak mampu membawa perubahan signifikan meski dikenal sebagai pelatih dengan reputasi taktik modern.

Keduanya menjadi simbol sulitnya menggantikan figur sebesar Sir Alex Ferguson di Old Trafford.

Ruben Amorim, Manajer Terburuk Pasca-Ferguson

Di posisi paling bawah, Ruben Amorim dinobatkan sebagai manajer terburuk Manchester United pasca-era Ferguson. Penilaian ini didasarkan pada catatan performa yang sangat mengecewakan selama masa kepemimpinannya.

Amorim membawa Manchester United finis di posisi ke-15 Liga Inggris, yang merupakan posisi terburuk klub sejak Ferguson pensiun. Selama sekitar 14 bulan masa jabatan, tidak terlihat adanya peningkatan signifikan, baik dari segi permainan, hasil, maupun stabilitas tim.

Selain hasil buruk, Amorim juga dikritik karena terlalu kaku mempertahankan sistem permainan yang dinilai tidak sesuai dengan karakter skuad. Ketidakmampuannya beradaptasi dengan tekanan dan tuntutan Premier League membuat masa jabatannya berakhir dengan kekecewaan besar.

Baca juga:  Cedera Alexander Isak: Kapan Bisa Main Lagi?

Hingga kini, pertanyaan besar masih menggantung: siapa manajer yang mampu benar-benar mengakhiri era ketidakstabilan dan membawa MU kembali ke puncak kejayaan?

More From Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *